Tugas Pendidikan Jasmani Adaptif

LAPORAN  HASIL  PENGAMATAN  DAN  OBSERVASI

TENTANG  PENDIDIKAN JASMANI ADAPTIF

USIA SEKOLAH  DASAR

DI

SLB BAKTI LUHUR

 

Oleh:

HENDRA SETIAWAN

107711407016

 

 

 

 

FAKULTAS  ILMU  KEOLAHRAGAAN

JURUSAN PENDIDKAN JASMANI KESEHATAN DAN REKREASI

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

MARET 2009

 

 

KATA  PENGANTAR

 

Penulis mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga laporan hasil pengamatan dan observasi tentang pendidikan jasmani adaptif anak usia sekolah dasar di “SLB BAKTI LUHUR” Kabupaten Malang ini dapat penulis selesaikan peyusunannya.Dan laporan ini dibuat untuk mengisi tugas mata kuliah pendidikan jasmani adaptif  yang dibina oleh bapak Slamet Raharjo

Namun demikian,penulis yakin bahwa laporan ini banyak kekurangan di dalam proses penyusunannya.Untuk itu,penulis mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak demi penyempurnaan laporan ini.Selain itu,penulis berharap laporan ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan pembaca.

Akhir kata,penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian laporan ini.Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi para mahasiswa dan mahasiswi,serta pembaca pada umumnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Malang,16 Maret 2009

 

 

Penulis

 

 

 

 

 

 

DAFTAR  ISI

 

Kata Pengantar……………………………………………………………………………..

Daftar Isi……………………………………………………………………………………

Bab I    Pendahuluan

1.1  Latar belakang………………………………………………………………………………………………..

1.2  Rumusan masalah………………………………………………………………………………………….

1.3  Tujuan……………………………………………………………………………………………………………

1.4  Metode………………………………………………………………………………………………………….

 

Bab II   Inti Laporan

2.1 Definisi tentang tuna netra……………………………………………………….

2.2 Karakteristik dan srategi intruksional…….……………………………………..

2.3 Aktifitas yang disarankan dan dilarang……………. …………………………..

2.4 Hasil observasi di SLB bakti luhur………………………………………………

2.5 Pembahasan……………………………………………………………………..

Bab III  Penutup

3.1 Kesimpulan……………………………………………………………………..

3.2 Saran…………………………….………………………………………………

 

Daftar Pustaka…………………………………………………………………………….

Lampiran

LATAR BELAKANG

 

 

Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua, pendidik dan pemerintah/masyarakat. Semua orang berhak untuk mendapatkan pendidikan termasuk anak-anak luar biasa. Yang dimaksud anak luar basa adalah anak yang memiliki kelainan baik fisik, mental, sosial maupun emosi dan membutuhkan pelayanan pendidikan secara khusus. Melalui pendidikan, anak luar biasa diharapkan mampu hidup mandiri tanpa menggantungkan hidupnya pada orang lain. Lembaga pendidikan yang memberikan pelayanan pendidikan bagi anak luar biasa adalah Sekolah Luar Biasa (SLB).

Menurut sherril arti yang dimaksud dengan pendidikan jasmani khusus adalah sebagai berikut: Pendidikan jasmani khusus adalah satu system penyampaian pelayanan komprehensif yang dirancang untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah dalam ranah psikomotor. Pelayanan tersebut menckup penilaian. Program pendidikan individual, pengajaran bersifat pengembangan dan/atau yang disarankan, konseling, dan koordinasi dari sumber/layanan yang terkait untuk memberikan pengalaman pendidikan jasmani yang optimal kepada semua anak dan pemuda.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa pendidikan jasmani khusus adalah satu bagian khusus dalam pendidikan jasmani yang dikembangkan untuk menyediakan program bagi individu dengan kebutuhan khusus. Ada tiga program utama yang diberikan dalam perkembangan (French dan Jansma, 1982:8)

Pendidikan jasmani disesuaikan adalah pendidikan melalui program aktivitas jasmani tradisional yang dimodifikasi untuk memungkinkan individu dengan kelainan memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi dengan aman, sukses, dan memperoleh kepuasaan. Sebagai contoh, individu yang penglihatannya terbatas atau yang harus berada di kursi roda untuk berpindah tempat memerlukan peraturan permainan bola voli yang dimodifikasi atau memerlukan peralatan tambahan untuk bola gelinding.

Pendidikan jasmani korektif terutama mengacu kepada perbaikan kelainan fungsi postur dan mekanika tubuhPendidikan jasmani perkembangan mengacu kepada satu program kesegaran jasmani yang progresif dan atau latihan otot-otot besar untuk meningkatkan kemampuan jasmani individu sampai pada tingkat atau mendekati kemapuan teman sebakyanya.

Tujuan pendidikan jasmani khusus

  1. Untuk menolong siswa mengkoreksi kondisi yang dapat di perbaiki.
  2. Untuk membantu siswa melindungi diri sendiri dan kondisi apa pun yang akan memperburuk keadaannya melalui aktivitas jasmani tertentu.
  3. Untuk memberikan kepada siswa kesempatan untuk mempelajari dan berpartisipasi dalam sejumlah macam olahraga dan aktivitas jasmani waktu luang yang bersifat rekreatif.
  4. Untuk menolong siswa yang memahami keterbatasan kemampuan jasmani dan mentalnya.
  5. Untuk membantu siswa melakukan  penyesuaian sosial dan mengembangkan perasaan memiliki  harga diri.
  6. Untuk membantu siswa dalam mengembangkan pengetahuan dan apresiasi terhadap mekanika tubuh yang baik.
  7. Untuk menolong siswa memahami dan menghargai berbagai macam olahraga yang dapat dinikmatinya sebagai penonton. (Crowe,1981:425)

Peran dari mereka yang terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan pendidikan jasmani khusus adalah sebagai berikut: (1) memberikan pelayanan langsung kepada siswa-siswa yang ber kelainan dan keluarga mereka; (2) memberikan latihan pra-jabatan dan /atau dalam jabatan. Pemberian pelayanan langsung dalam lingkup sekolah adalah langsung bekerja dengan anak yang berkelainan. Layanan langsung dalam bentuk mengajar dan menilai dapat diberikan atau dilakukan oleh seorang  spesialis dalam pendidikan jasmani khusus atau seorang guru pendidikan jasmani biasa yang telah dilatih atau memiliki kompetensi dalam pendidikan jasmani khusus.

  1. Untuk menolong siswa mengkoreksi kondisi yang dapat di perbaiki.
  2. Untuk membantu siswa melindungi diri sendiri dan kondisi apa pun yang akan memperburuk keadaannya melalui aktivitas jasmani tertentu.

10.  Untuk memberikan kepada siswa kesempatan untuk mempelajari dan berpartisipasi dalam sejumlah macam olahraga dan aktivitas jasmani waktu luang yang bersifat rekreatif.

11.  Untuk menolong siswa yang memahami keterbatasan kemampuan jasmani dan mentalnya.

12.  Untuk membantu siswa melakukan  penyesuaian sosial dan mengembangkan perasaan memiliki  harga diri.

13.  Untuk membantu siswa dalam mengembangkan pengetahuan dan apresiasi terhadap mekanika tubuh yang baik.

14.  Untuk menolong siswa memahami dan menghargai berbagai macam olahraga yang dapat dinikmatinya sebagai penonton. (Crowe,1981:425)

Peran dari mereka yang terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan pendidikan jasmani khusus adalah sebagai berikut: (1) memberikan pelayanan langsung kepada siswa-siswa yang ber kelainan dan keluarga mereka; (2) memberikan latihan pra-jabatan dan /atau dalam jabatan. Pemberian pelayanan langsung dalam lingkup sekolah adalah langsung bekerja dengan anak yang berkelainan. Layanan langsung dalam bentuk mengajar dan menilai dapat diberikan atau dilakukan oleh seorang  spesialis dalam pendidikan jasmani khusus atau seorang guru pendidikan jasmani biasa yang telah dilatih atau memiliki kompetensi dalam pendidikan jasmani khusus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Untuk dapat melaksanakan semua tugas dengan baik maka konsep program pendidikan individual harus digunakan. Konsep program pendidikan individual ini harus berisikan hal-hal seperti berikut:

  1. Satu pernyataan tentang tingkat unjuk-kerja pendidikan anak pada waktu sekarang.
  2. Satu pernyataan tentang tujuan-tujuan untuk satu tahun termasuk tujuan-tujuan instruksional jangka pendek.
  3. Satu pernyataan yang khas pendidikan khusus dan pelayanan yang berkaitan dengan itu yang diberikan kepada anak, dan seberapa jauh anak akan sanggup berpartisipasi dalam program pendidikan reguler.
  4. Satu pernyataan tentang kapan pelayanan akan dimulai dan lamanya itu diperkirakan berlangsung.
  5. Satu pernyataan tentang kriteria tujuan dan prosedur evaluasi yang memadai serta rencana melaksanakannya untuk menentukan apakah tujuan-tujuan instruksional jangka pendek telah dicapai (Sherrill: 1981, 11)

Spesialis pendidikan jasmani khusus bertanggung jawab mengenai bagian program pendidikan individual yang berkaitan dengan ranah psikomotor. Kadangkala spesialis itu berpartisipasi langsung dalam proses program pendidikan individual.

  1. Satu pernyataan tentang tingkat unjuk-kerja pendidikan anak pada waktu sekarang.
  2. Satu pernyataan tentang tujuan-tujuan untuk satu tahun termasuk tujuan-tujuan instruksional jangka pendek.
  3. Satu pernyataan yang khas pendidikan khusus dan pelayanan yang berkaitan dengan itu yang diberikan kepada anak, dan seberapa jauh anak akan sanggup berpartisipasi dalam program pendidikan reguler.
  4. Satu pernyataan tentang kapan pelayanan akan dimulai dan lamanya itu diperkirakan berlangsung.

10.  Satu pernyataan tentang kriteria tujuan dan prosedur evaluasi yang memadai serta rencana melaksanakannya untuk menentukan apakah tujuan-tujuan instruksional jangka pendek telah dicapai (Sherrill: 1981, 11)

Spesialis pendidikan jasmani khusus bertanggung jawab mengenai bagian program pendidikan individual yang berkaitan dengan ranah psikomotor. Kadangkala spesialis itu berpartisipasi langsung dalam proses program pendidikan individual.

Beberapa Manfaat dari Pendidikan Jasmani Khusus

Manfaat bagi jasmani

Penting bagi perkembangan maksimal dari jasmani. Melalui program pendidikan jasmani yang direncanakan dan dilaksanakan dengan baik pertumbuhan jaring-jaring otot dan tulang dirangsang.

Manfaat bagi keterampilan gerak

Guru yang professional dan berkemampuan dapat membantu tiap anak mengembangkan secara paling efisien koordinasi syaraf-otot (neuromuscular), ketrampilan gerak, dan gerak-gerak kreatif.

Manfaat bagi kesegaran

Melalui satu program pendidikan jasmani yang seimbang kekuatan tubuh, daya tahan, kelentukan, dan mobilitas dapat dikembangkan dan dipertahankan, dan dapat membantu anak mengembangkan tingkat kesegarannya yang optimal untuk kehidupan sehari-hari.

Keuntungan emosional

Sebagian besar dari aktivitas jasmani melibatkan emosi. Umpamanya, dalam waktu realatif singkat, sikap anak dapat berubah dari sangat kecewa ke kegembiraan. Anak dapat belajar untuk menguasai emosinya dan prilaku lainnya dengan baik melalui bimbingan dari guru pendidikan jasmani dan peraturan dalam tiap jenis permaianan.

Keuntungan sosial

Pendidikan jasmani memberikan kesempatan untuk interaksi social dalam lingkungan yang bervariasi, dan dapat membantu baik anak berkelainan maupun yang tanpa kelainan belajar menerima perbedaan individual dari manusia.

Keuntungan bagi kecerdasan

Setiap kali anak berpartisipasi dalam permainan yang disajikan dalam pendidikan jasmani, olah pikir diperlukan. Sejumlah pakar berpendapat bahwa tingkat kesegaran jasmani berhubungan dengan pencapaian intelektual, khususnya kesiapan mental dan konsentrasi.

 

 

 

 

 

RUMUSAN MASALAH

  1. Apakah yang di maksud dengan tuna netra?
  2. Bagaimana karateristik dan strategi intruktusionalnya?
  3. Apakah aktifitas yang di sarankan dan di larang pada tuna netra?

TUJUAN

  1. Mengetahui apa yang di maksud dengan tuna netra
  2. Mengetahui karakteristik dan strategi intruktusional
  3. Mengetahui aktifitas yang di sarankan dan di larang pada tuna netra

METODE

Penulisan laporan mengenai permainan pada pendidikan adaptif pada usia dasar kelas 1 pada siswa SLB ini harus memiliki metode permainan yang baru agar siswa tidak bosan dengan permainan yang ada sebelumnya.Metode ini di lakukan agar guru dapat memberikan permainan baru pada siswanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

INTI LAPORAN

1. DEFINISI TUNA NETRA

Anak dikatakan tuna netra apabila mereka kehilangan daya lihatnya sedemikian rupa sehingga tidak dapat menggunakan fasilitas pendidikan anak awas atau normal pada umumnya sehingga untuk mengembangkan potensinya diperlukan layanan pendidikan khusus. Tuna netra di bagi menjadi dua yaitu :

  1. Kurang awas (low vision), yaitu seseorang dikatakan kurang awas bila ia masih memiliki sisa penglihatan sedemikian rupa sehingga masih dapat sedikit melihat atau masih bisa membedakan gelap dan terang.
  2. Buta (blind), yaitu seseorang dikatakan buta apabila ia sudah tidak memiliki sisa penglihatan sehinga tidak dapat membedakan gelap dan terang.

CIRI-CIRI FISIK :

¯  Memiliki daya dengar yang sangat kuat sehingga dengan cepat pesan-pesan melalui pendengaran dapat dikirim ke pusat pengertian di otak.

¯  Memiliki daya pendengaran langsung dapat dikirim kepusat pengertian di otak.

¯  Kadang-kadang mereka suka mengusap-usap mata dan berusaha membelalakkannya.

¯  Kadang-kadang mereka memiliki prilaku yang kurang sedap bila dilihat oleh ornag normal pada umumnya atau dengan sebutan Blindism (misalnya ; mengkerut-kerutkan kening, menggeleng-gelengkan kepala secara berulang-ulnag dengan tanpa disadarinya)

CIRI-CIRI MENTAL :

¯  Merasa tidak percaya diri dalm bersosialisasi.

¯  Mengalami tttekanan batin dengan adanya cemooh dari orang yagn normal.

¯  Merasa dirinya tidak berguna karen aselalu menyusahkan orang lain.

CIRI-CIRI SOSIAL :

¯  Mengalami kesulita dalam berkomunikasi.

¯  Selalu membutuhkan orang lain dalam melakukan kegiatan.

 

 

 

 

2. KARAKTERISTIK DAN STRATEGI INSTRUKTUSIONAL

Sebagaimana telah diuraikan di atas umur terjadinya kehilangan penglihatan dan tingkat kehilangan merupakan penentu bagi kebutuhan pengajaran khusus. Akibat yang paling gawat akan dihadapi peserta didik yang mempunyai kelainan penglihatan tersebut bila umurnya kurang dari 16 tahun. Charles Buell, seorang pakar salam pendidikan jasmani untuk mereka yagn terbatas penglihatannya menyatakan bahwa ”Kebutaaan bukanlah sebuah tragedi, bahkan ia merupakan gangguan yang dapat dikompensasikan atau diatasi”(1973h.9). Sebagian suatu pedoman Buelll mengajka satu daftar saran yang penting yang  telah disesuaikan untuk digunakan dalam bidang pendidikan jasmani. yaitu diantaranya :

  1. Tolong langsung memanggil nama saya dan bukan melalui teman atau pemandu saya.
  2. Saya dapat berjalan lebih tenang bersama anda dari pada dengan anjing atau tongkat. Tetapi jangan memegang lengan saya atau mencoba mendorong saya, biar saya memegang lengan anda. Saya akan berjalan satu langkah di belakang anda untuk mengantisispasi anak tangga. Turun tanggga saya lebih menyukai berpegangan pada pagar tangga, Bila saya diberi arah, jelaskna apakah maksud sebelah kanan anda atau saya.
  3. Berbicaralah kepada saya apabila anda memasuki ruangan dan jelaskan siapa anda, jangna saya diminta menerka nama. Perkenalkan saya kepda orang lain termask anak-anak. Bimbing tangan saya kelengan atau sandran kursi.
  4. Bagi saya, Pintu- pintu harus tertutup total atau terbuka lebar, pintu yang setengah terbuka merupakan satu bahaya, demikian pula mainana yang teletak di lantai.
  5. jangan hindari kata seperti ”lihat” saya juga menggunakanya! Saya selalu gembira melihat anda.
  6. Saya tidah mengiingkna belas kasihan. Tetapi jang berbicara tentang ”kompensasi yang menakjubkan” dari kebutaaan apapun yang telah saya pelajari diperoleh dengna kerja keras.
  7. Saya akan mendiskusikan kebutuhan dengan anda bila anda ingi tahu, ttetap bagi saya itu adalah suatu cerita lama. Saya mempunyai perhatina lain sma banyaknya dengna anda.
  8. jangan memikirkan saya sebagia orang buta. Saya adalah seorang yang kebetulan buta (1973,h. 11).

3. AKTIVITAS YANG DISARANKAN DAN DILARANG

Menurut French dan jansman (1982.h.208) beberapa alasan tidak mengikuti aktivitas jasmani:

¯  Rasa takut dari guru dan administrator atau penglelola sekolah.

¯  Tidak mempengaruhi tentang pendekatan pengajaran yang efektif bagi yagn berpengliharan terbatas dalam pendidikan jasmani.

¯  Sikap negatif terhadap peserta didik yagn berpenglihatan terbatas yang berada dalam kelas.

¯  Terlalu menekan pada tujuan vokasional.

¯  Terlalu dilindungi oleh ornag tua atau wali

¯  Terlalu mudahnya doktter memberikan surt keterangnan agar yang berpnglihatan terbatas tidak perlu iku  t aktivitas jasmani.

a. Kesegaran jasmani dan gerak

Peserta didik berpenglihatan terbatas seharusnya membutuhkan kesegaran yang lebih daripada yang berpenglihatan normal, karena bagi yang berpenglihatan terbatas melakukan satu gerak memerlukan usaha yang lebih banyak dari pada diperlukan (Buell,1973).

Cara-cara meningkatkan kekuatan :

  1. Angkat beban menggunakan alat Universal (mulai dengna tanpa beban agar terlebih dahulu menguasai mkeanika mengangkat da setelah itu di beri beban)
  2. Latihan Isometrik
  3. Memanjat tali atau jala yang digantungkan. Perlu diingat bagi penderita glaucoma, karena aktivitas itu dapat meingkatkan tekanan pada bola mata.

Aktivitas kunci dari kardiovaskuler yagn dapat dilakukan secara aman dan berhasil bagi peserta didik berpenglihatan terbatas dapat berupa :

¯  Lari ditempat

¯  Gunakan sepeda latihan (sepeda yagn berada di tempat)

¯  Gunakan mesin mendayung

¯  Lari menempuh jarak tertentu (ada pelari marathon yang buta)

Cara- cara membantu dalam lari :

Cukup banyak cara yang berguna untuk membantu eserta didik berpenglihatan terbatas dalam lari jarak jauh. Pelari berpenglihatan terbatas dapat mendengar suara dari pelari berpenglihatan normal (usahakan agar suara-suara yang lain tidak mengganggu suara atau tanda dari yang melihat normal): Memegang siku pembatu yang berpenglihatan normal (pelari yang berkelainaan ½ langkah kesamping dan ½ langkah di belakang pelari yang normal matanya): memegang tali atau kabel yang di pegang oleh pelari yang normal matanya: ikiti garis kuning atau orange (bagi berpenglihatan residual) . Namun, alat apapun yang harus dipegang oleh pelari yang berenglihatan terbatas akan menghalangi lengna yang normal berayun dalam lari yagn efisien. Satu alternatif lain adalah menyuruh teman yang dapat melihat bersepeda disamping pelari yang berpenglihatan terbatas. Teman yang bersepeda itu dapat berbicara, stu alat yang dapat berbunyi di pasang disepeda (Gallagher,1977)untuk memberi arah. Akhirnya, semakin hilang penglijatan semakin telihat penyimpangan mekanika tubuh. Satu teknik untuk melatih mekanika tubuh adalah menyuruh yang berkelainan memeriksa dengan cara meraba boneka atau menekuni bagian- bagiannya dapat bergerak. Satu teknik lain adalah menggunakan kipas angin. Udara yang dihembuskan oleh kipas angin yang besar ke bagian depan dari tuuh dapat merangsang kesadaran tentang bagian- bagian tubuh: umpamanya yang bersangkutan dapat diminta untuk mengangkat atau menundukkan kepalanya untuk mendapat terpaan angin.

b. Keterampilan dan pola gerak dasar

Kelas pendidikan jsmani perlumencakup berbagai macam aktivitas jasmani yang tidak rumit yang dapat mengembangkan kedua kebutuhan tersebut disamping keseimbangan. Berbagai macam aktivitas ini dapat berupa:

  1. Menyebutkan bagian-bagian tubuh.
  2. Menggerakkan bagian-bagian tubuh secara terpisah.
  3. Mengkoordiansikan gerak dari dua bagian tubuh.
  4. Menggerakkan benda dengan berbagai bagian tubuh.
  5. merasakn ukuran dari berbagia bagian tubuh.
  6. Mengidentifikasi bagian-bagian tubuh dari teman yang lain.
  7. Memelihara keseimbangna di atas balok keseimbangan yang randah.

Keterampilan gerak berpindah tempat :

Peserta didik bepenglihatan tebatas sering terbelakang dalam perkembangan keterampilan gerak berpindah tempat yang baik. Sejumlah mereka berjalan dengan dua tungkai terpisah lebar (mengangkang). Kebiasaan ini memperlebar tumpuan tubuh dan hal ini mungkin berkaitan dengan kurang percaya diri dalam gerak dan juga karena kesimbangan kurang. Mereka ini juga cenderung membuat langkah yang lebar dan tinggi seakan-akan melangkahi suatu objek yang tidak diketahui. Sering kesalahan yang sama terlihat pada keterampilan lain seperti lari. Peserta didik yang mempunyai kebiasaan ini perlu diberi tahu tentang masalah yang dihadapinya dan berlatih berjalan dengan baik sehinggga mereka memiiki umpan balik kinestetik yang tepat dan membentuk pola gerak baru. Untuk mengkoreksi kaki mengarah ke luar dan berjalna di atas papan dengan lebar terbatas atau berjaln diantara dua papan atau tongkat atau tali yagn diletakkan di lantai, yang cukup lebar untuk megakomodasi dua kaki. Belajar berjalna dalm satu arah yagn lurus juga penting bagi peserta didik berpenglihatan terbatas.

Gerah dasar khususlainnya dapat diajarkan kepada peserta diidk yagn cacat penglihatannya. Melempar adalah ketrampilan yang paling tidak dikuasainya. Bila dianalissi secara teliti, gerak melempar merupakan keterampilan yang rumit, bahkan juga bagi mereka yang memperoleh keuntungan dari contoh melempar. Walaupun peserta didik yagn buta dapat mengembangkan pola melempar yang baik dengan latihan tertentu,energi dan waktu yang digunakan mungkin lebih baik dimanfaatkan untuk melatih keterampilan gerak lain yang dapat digunakan sepanjang hidup.

Menyepak, melompat, meloncat dan berlari dapat diajarkan dengan sedikit penyesuaian (adaptasi). Latihan menyepak kaleng kosong yang membuat suara yang cukup keras pada lantai keras dan jarak utuk memperolehnya kembali tidak jauh. Meloncat dan melompat dapat diajarkan di trampolin dengan melekatkan lonceng pada pusat trampolin. Lari dapat diajarkan dengan mengaitkan kedua tangan penderita dengan tangan dua teman yang bergerak di kiri dan kanannya, jadi menyalurkan perintah kinestetik secara terus menerus . teknik ini dapat pula dipakai untuk anak tuna rungu. Karena peserta didik berpenglihatan terbatas tidak dapat menerima masukan visual, harus tergantung pada informasi yang kurang tepat dari sumber indera lain. Informasi ini tidak segera dapat digunakan untuk meniru gerak keterampilan dasar. Sebab itulah maka latihan gerak dasar harus dilakukan dalam jangka waktu yang lama.

 

c. Aktivitas individu dan kelompok

French dan jansma memberikan bebrapa pedoman untuk megdaptasikan permaianna agar peserta didik berpenglihatan terbatas dapat diambil bagian secara aman dan sukses (1981,h.211-212)

  1. Tempatkan alat yang berbunyi dalam bola, pada keranjang, pada gawang, dan pada tempat hnggap (base).
  2. gunakan formasi rantai (rabaan).
  3. Aktivitas dimulai dari tempat yang tetap.
  4. Manfaatkan keadaan permukaan tempat bermain (rumput yang tingginya berlainana, pasir, tanah) untuk menyatakan batas lapangan permainan dan daerah luar batas permainan.
  5. Ubah susunan (tekstur) dari alat.
  6. Gunakan dinding yang telah dilapisi/ditutup dengna bahan yang empuk.
  7. Gunakan warnah yang cerah dari objek aktivitas dan tanda batas-batas.
  8. Gunakan sempritan, memanggil atau meneriakka nama.
  9. Ukurna lapangna permainan diperkecil.
  10. Batasi jumlah peserta dari kedua tim.
  11. Bermain dengan gerak lambat bila memperkenalkan permainan baru.
  12. Gunakan tanda atau bau sebagai tanda dalam situasi tertentu.
  13. Beritahu pemain yang buta apabila seorang pemain kunci meninggalkan lapangna atau daerah permainan.

Berikut aka disajikan dua contoh aktivitas dasar yagn digunakan oleh peserta tunanetra:

  1. Bila para peserta didik secra tetap berhubungan dengan parasut tidak diperlukan modifikasi. Peserta didik dapat diambil bagian dalam banyak gerak dasr termasuk semua tipe gerak berpindah tempat (locomotion).
  2. Dalam permainan pengantar (lead-up game) seperti bola sepak (kickball) yang bertujuan untuk mengembagnkan kemampuan menyepak, menangkap bola dan memperkenalkan peraturan permaiann softball, di dalam bola diberi alat yagn berbunyi. Pemain lapangan yang buta untuk mematikan pelari ketempat hinggap, hanay perlu menghentikan atau mengambil bola yang telah disepak pelari. Pitcher menggelindingkan bola ke penyepak melalui tempat hingga (base). Penyepak dapat lari ke tempat hinggap yang mengeluarkan bunyi atau suara orang atau bunyi sempritan untuk memberikan arah lari.

Contoh aktivitas yang disesuaikan

Berikut ini diberika bebrapa contoh aktivitas yagn disesuaikan yang dapat digunakan bagi peserta tunanetra yang lebih berumur.

  1. Dalam gulat, hubungna harus selalu ada dalam pertandingan. Peserta didik tunanetra ada yagn menonjol prestasinya dalm gulat antar sekolah.
  2. Peserta didik tunanetra dapat sukses dalam atletik seperti dalam nomor tolak peluru, lempar cakram, lompat jauh dengna dan tanpa awalan. Dalam tolak peluru dan lempat cakram, temannya yang tidak buta membantu peserta tunanetra untuk mengambil pisisi yang baik untuk setiap melakukan tolakan ataulemparan. Dalam melakukan lompat jauh perubahan sifat permukaan tanah dapat memberikan daerah peringatan dan tempat melkukan tumpuan lompatan.
  3. mengendari sepeda tamdem dapat berhasil bila peserta didik tunanetra duduk di sadel belakang.

Ada beberapa aktivitas yang tidak disarankan untuk tunanetra, seperti permainan tenis dan squas; aktivitas yagn memerlukan kelincahan: aktivitas yang mengharuskan peserta lari dari arah yang berlawanan: aktivitas jungkir-balik (tumblig) bagi penderita glucoma.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tuna netra adalah istilah umum yang digunakan untuk kondisi seseorang yang mengalami gangguan atau hambatan dalam indra penglihatannya. Berdasarkan tingkat gangguannya/kecacatannya Tunanetra dibagi dua yaitu buta total (total Blaind) dan yang masih mempunyai sisa penglihatn (Low Visioan).

 

KELAINAN PENGLIHATAN

Definisi

Menurut French dan jasmani (1982:199) kelainan penglihatan mempunyai definisi  pendidikan dan hukum .Berdasarkan undang-undang dan peraturan di Amerika;

“Kelainan penglihatan”berarti satu penglihatan yang kabur yang walaupun dengan koreksi,secara tidak menguntungkan akan mempengaruhi unjuk kerja pendidikan dari peserta didik.Istilah ini mencakup baik peserta didik yang setengah buta maupun yang buta sama sekali.

Istilah seengah buta dan buta mempunyai definisi hokum yang lebih tepat untuk di gunakan dalam pendidikan,pekerjaan dan kegunaan lainnya.Menurut Perkumpulan Nasional untuk pencegahan Kebutaan (National society for the Prevention of blindness,1966),10% dari penglihatan normal mata terbaik setelah kolerasi dapat

Di anggap kebutaan legal,dan ketajaman penglihatan yang sama dengan kira-kira 30% dari penglihatan normal pada kondisi yang sama dapat di anggap sebagai penglihatan sebagian.Penglihatan sebagian juga termasuk individu yang penlihatannya berada antara rentangan 10% sampai 30% dari penglihatan normal.Selain itu ,kkebutaan legal didefinisikan menurut bidang penglihatan.Bila seseorang dapat melihat hanya 20 derajat dari bidang penglihatan,ia juga dianggap buta legal,walaupun ketajaman penglihatannya dalam rentangan normal.Tes yang paling umum digunakan untuk menentukan ketajaman pada jarak yang berbeda adalah Snellen Test.

Perlu di pahami dengan baik bahwa orang yang buta legal masih dapat memiliki penglihatan residual.Jadi,diperlukan istilah yang lebih khusus untuk mnerangkan kelainan penglru penlihatan.Biasanya guru pendidikan jasmai akan selalu di tantang karena akan mempunyai peserta didik dengan berbagai tingkat keterbatasan penglihatan dalam kelas regulernya.Populasi baru ini biasanya mencakup mereka dengan penglihatan funsional atau residual.Guru pendidikan jasmani juga akan mempunyai peserta didik yang belum pernah didiagnosis mempunyai keterbatasan penglihatn yang bermakna,tetapi telah melakukan kompensasi denagn berbagai cara untuk mengatasi keterbatasan penglihatan  mereka.Sesungguhnya,seorang peserta didik mungkin tidak menyadari adanya masalah penglihatan ini sekiranya ia mempunyai masalah tersebut.Oleh karena itu para guru memerlukan kecermatan observasi mengenai peserta didiknya agar ia dapat mengetahui mereka yang mempunyai masalah penglihatan,yang selanjutnya di minta untuk memeriksakan mata kepada spesialis mata.

Metode Pembelajaran yang di gunakan di SLB Bakti Luhur

1)      Buku Panduan (Referensi)

Sampai saat ini di SLB bakti Luhur dalam kaitaanya unutk pembelajaran pendidikan jasmani tidak menggunakan buku panduan(referensi) satupun. Guru hanya berbekal pada sebatas pengetahuan mereka tentang olahraga.

2)      Metode pembelajaran Pendidikan jasmani

Merka tidak membuat suatu rancangan pembelajaran untuk pendidikan jasmani yang jadi untuk pendidikan jasmani mereka hanya menerapkan ke aktivan siiswa saja. Maksudnya apabila siswa dan siswi sudah jenuh dlam melakukan aktifitas stersebut dengan sendirinya mereka menghentikan pembelajaran tersebut. Pada kelas yang kami lakukan observasi terdapat 8 siswa yaitu 2 siswa mengalamikelainan ganda ddan 6 siswa yang lain mengalmai tuna netra biasa.

Kelas ini disebut keas intuisi, dan apabila dalm kelas intiusi inisiswa dapat berkelakuan baik mereka akan di pindahkan ke kelas 1.

3)      Olah raga yang di berikan di SLB Bakti Luhur

Olahraga yang di berikan di SLB Bakti Luhur cukup befariasi yang terutama di berikan pada Kelas nol kecil disini ada beberapa jenis olahraga diantaranya:

Jungkir balik menggunakan matras, sit up, lempar tangkap bola yang di beri alat bunyi di dalam bola, senam. Di sekolah ini sudah sering mengirimkan atlitnya untuk mengikuti perlombaan suatu cabang olahraga yang di ikuti diantaranya lempar lembing, lempar cakram dan jalan cepat.

Semua aktifitas ini rutin di lakukan pada saat jam olharaga tapi juga kadang-kadang tidak semuanya tergantung pada minat anak atau tingkat daya tahan fisik dari masing-masing anak. Apabila anak sudah terlihat bosan mereka akan dengan sendirinya pindah ke kegiatan yang lain, misalnya saja belajar berhitung menggunakan alat hitung, belajar menghafal huruf menggunakan braile dan juga fasilitas komputer.

4)      Guru pengajar di SLB Bakti Luhur

Lebih segnifikannya lagi di sekolah tersebut tidak mempunyai guru olahraga dikarenakan sangat slutnya mencari guru yang bisa mengerti tentang kadaan siswa yang berkelainana atau cacat. Tapi menurut informasi yang kami terima dari pihak guru dulu sempat ada guru olahraganya tapi sekarang guru tersebut telah lepas tugas dari sekolah tersebut.

 

Persiapan Untuk Pelajaran Aktivitas Jasmani

Karakteristik Karakteristik Instruksional
Psikomotor

  1. Semakin besar keterbatasan penglihatan, semakin besar kendala untuk seluruh perkembnagnan psikomotor.

 

 

  1. Masalah-masalah gerak dan kebugaran terlihat dalam pola gerak yang rumit dan bagi mereka banyak kehilangan penglihatan dimulai pada usia kanak-kanak.
  2. Yang berpenglihatan terbatas mengikuti uturan perkembangan gerak normal tetapi dengna kecepatan lambat, terutama disebabkna kurang pengalaman gerak dan kesulitan dalam orientasi ruang.
  3. Skor kesegaan jasmani dari yang berkelainana penglihatan meningkat dengna bertambahnya umur.

Aktifitas keseimbangan

  1. Kemmapuan keseimbagnna dari peserta didik berpenglihatan terbatas berada di bawah normal.

Latihan meningkatkan  tonus dan kekuatan otot

  1. Peserta didik berpenglihatan terbatas cenderung mempunayi sikap tubuh yang salah. Kekauan mmebungkukkan ke depan untuk meraba objek adalah hal yang biasa bagi mereka.
  2. Peserta diidk berpenglihatan terbatas kususnya kurang baik dalam lari dan melempar, terutama karena bambar tubuh (body image) yang kurnag baik.

Gambar tubuh

  1. Gambar tubuh keselurhan dari individu berpenglihatan terbatas cenderung kurang.
  2. Peserta didik berpneglihatna terbatas cenderung mempunyai kelebihan berat badan.
  3. Kacamata, lensa kontak atau alat pembesar yang di pegang iasa digunakan oleh individu yang berpenglihatan terbatas.

 

Kognitif

  1. Intelegensi individu berpenglihatan terbatas bervariasi sangat besar seperti teman sebayanya berpenglihatan noraml.
  2. Karena pencapaian akademik sebagian besar berdasarkan pada kemmapuan membaca, prestasi akademik itu akan terhalang disebabkan penglihatan hanya sebagian atau hilang sama sekali.
  3. Rentangan dari kesadaran kognitif secara keseluruhan cenderung terbatas bila dibandingkan dengan orang berpenglihatan normal.

Afektif

  1. Banyak orang berpenglihatan terbatas kurang percaya diri dan perasa terhadap nilai.

Orientasi tentang lingkungna dan alat

  1. Banyak peserta didik berpenglihatan terbatas kurang inisiatif bila ikut aktivitas gerak otot-otot besar.
  2. pengalaman bermaina yagn spontan dan terstruktur sering sangat terbatas untuk peserta didik berpenglihatan terbatas. Perkembangna sosial mereka cenderung terlambat.
  3. Takut gerak dan terlalu tergnatung pada orang lain merupakan karaktteristik dari peseta didik berpenglihatan terbatas.
  4. Peserta didik berpenglihatan terbatas cenderung sangat verbal, karena mereka tidak dapat memperhatikan tanda-tanda non vebal.
  5. Beberapa individu dengna penglihatna terbatas mungkun cenderung berpura-pura mempunyai penglihatan lebih baik utuk memberikan kesan bahwa mereka normal.
  6. Beberapa individu yang buta tidak kecewa dengan kadaan mereka dan malahan bangga atas keterampilan yang telah dikuasai.

 

 

 

 

 

 

  1. Persiapan untuk pelajaran aktivitas jasmani dengan pada awal meyakini bahwa peserta didik telah memperoleh orientasi dan pelajaran mobilitas di dalam dan di luar ruang sedini mungkin.

 

 

 

 

PEMBAHASAN

Sebenarnya cukup banyak variabel dari penelitian ini yang dapat diolah dan dianalisa seperti sarana prasarana, guru pendidikan jasmani dan sebagainya. Namun mengingat keterbatasan waktu, pada kesempatan ini kami hanya mengolah dan menganalisa data hasil penelitian secara global saja yang meliputi tentang berbagai macam permainan yang tersaji di sekolah ini Pada observasi kemarin di SLB Bakti Luhur kami mengamati berbagai macam permainan di sekolah tersebut. Disana terdapat 4-5 permainan yang ada dan itu digunakan setiap kali pertemuan diantaranya adalah:

 

  1. Permainan lempar bola
  2. Permainan tangkap bola
  3. Senam matras
  4. Senam  irama

 

Siswa akan merasa bosan jika setiap kali mereka mendapat permainan yang sama tiap pertemuan maka dari itu kami membuat masukan untuk menambah permainan yang ada biar siswa dapat merasakan permainan yang baru dan mereka tidak bosan dengan permainan yang ada sebelumnya.Kami memberi 3 permainan baru diantaranya adalah:

 

  1. Permainan Boling

Permainan boling ini membutuhkan 5 kaleng minuman yang dapat berbunyi misalnya: kaleng sprit,fanta,dll.Setelah itu Kami membuat lapangan boling dengan kapur tulis.Kemudian kami membuat garis untuk tempat kaleng dan garis lempar untuk tempat si pelempar.Kemudian kami membuat garis tengah untuk jarak kaleng dengan jarak si pelempar denagn ditengarahi dengan tali raffia ditengah-tengahnya.Dan yang terakhir adalah bola untuk si pelempar.

 

 

 

 

 

  1. Permainan balap lari

Dalam permainan ini kami hanya membutuhkan kapur tulis untuk membuat garis untuk lintasan dan membuat garis start dan finish

Sistem pemainannya adalah Kami membuat 2 lintasan untuk 2 pelari dengan sistem kerja sebagai berikut : pelari akan berlari mengikuti suara tepukan tangan yang ada di depan mereka

 

  1. Permainan menendang Bola

Permainan ini membutuhkan 2 batang kayu yang memiliki panjang 80cm,dan 1 batang kayu dengan panjang 1m.Kemudian tali rafia yang akkan digunakan untuk membuat gawang.Kemudian kapur tulis untuk membuat garis untuk tempat si penendang.Dan yang terakhir adalah bola untuk si penendang.

 

SKEMA PERMAINAN

Permainan  pada tuna netra yang kami berikan ada 3 yaitu:

1) Permainan Boling

Alat yang di gunakan:

  • Tali rafia
  • Kaleng minuman yang dapat bersuara
  • Bola yang dapat berbunyi

Aturan permainan:

  • Pertama 5 buah kaleng di tata berada 2meter dari garis start
  • Kedua kita buat garis lurus antara garis start dengan tempat kaleng dengan menggunakan tali rafia
  • Ketiga siswa yang melakukan berada di garis start kemudian memegang tali rafia yang lurus dengan kaleng yang berada di depan
  • Keempat siswa yang berada di garis start akan melempar bola

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2) Permainan balap lari

Alat yang digunakan :

  • Kapur tulis

Aturan permainan :

  • Pertama dua siswa berada di garis start
  • Kedua ada dua orang berada di samping yang akan memmberi aba-aba dengan memberi tepukan tangan yang harus didengar oleh pelari
  • Ketiga pelari akan berlari mengikuti suara tepukan tangan yang ada di depan mereka hingga finish

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3) Permainan menendang bola

Alat yang di gunakan :

  • 2 potong kayu yang tingginya kira-kira 80cm,lebar 100cm
  • Tali raffia
  • Kapur tulis
  • Bola plastik yang dapat berbunyi

Aturan permainan :

  • Pertama kita membuat garis sepanjang 5m antara gawang dan tempat penendang
  • Kedua bagi siswa yang akan menendang berada di tempat penendang
  • Ketiga siswa akan menendang bola ke gawang yang tidak ada kipernya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

Kesimpulan

Secara umum jenis permainan yang ada pada sekolah untuk tuna netra banyak tapi sayang permainan itu tidak di terapkan dengan baik atau hanya berkesan monoton sehingga dapat membuat siswa akan merasa bosan atau jenuh.Dan mereka tidak akan mengetahui berbagai macam permainan yang ada.Oleh sebab itu kami melakukan observasi dan memberikan berbagai macam permainan baru agar siswa tidak bosan denagn perminan yang ada sebelumnya dan mereka juga dapat mengenal berbagai macam permainan yang baru dan mereka dapat mencoba menerapkan permainan itu.

 

Saran

Perlengkapan fasilitas untuk tuna netra harus diperlengkap sehingga dapat melakukan aktifitas jasmani secara optimal dan maksimal.dan jika fasilitas untuk tuna netra tidak mendukung maka aktifitas jasmani tidak akan berjalan secara maksimal.jadi setiap pengurus untuk menyiasati dengan cara memodifikasi permainan-prmainan sehingga aktifitas jasmani bisa berjalalan dengan baik selain itu juga bisa menghemat pengeluaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PERTANYAAN

 

  1. Fany Widiasari

Apakah anak tuna netra mempunyai pandamping khusus dalam melakukan kegiatannya di sekolah?

  1. Andi Priawan

Apakah di SLB bakti luhur ada alternatif buat penyembuhan tuna netra?

  1. Eko Yudha K.

Apakah kesulitan yang di alami saat memberikan pengajaran olahraga di sana ?

  1. Eko Budi

Mungkinkah tuna netra dapat disembuhkan?

  1. Adin Karyawan

Apakah ada olahraga khusus tuna netra disana?

  1. Reza

Apakah pernah ada salah satu siswa disana yang mengikuti kejuaran di luar sekolah?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

JAWABAN

 

  1. Ada ini bertujuan agar perilaku siswa dapat di amati secara langsung dan hal-hal yang tidak di inginkan dapat dihindari.
  2. Menurut pengamatan yang kemarin kami lakukan di bakti luhur tidak ada tempat alternatif untuk tuna netra tapi untuk yang lain ada.
  3. Mungkn kesulitan yang kami alami adalah cara pemberian materi karena kami belum begitu tau bagaimana cara yang benar maengajar tuna netra dengan bahasa isyarat.
  4. Tergantung melihat parah tidaknya, kalau biasanya yang sejak lahir sudah begitu mungkin sulit untuk disembuhkan tapi, yang tidak begitu parah bisa disembuhkan.
  5. Di sana tidak ada olah raga khusus sebenarnya sama tapi alatnya yang dibuat berbeda dari bola atau lainnya.
  6. Ada tapi tidak di kelas yang kami observasi,itu terjadi di kelas lain yang pernah mengikuti kejuaraan di tingkat Jawa Timur tepatnya pada cabang tolak peluru

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Tahoma; panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-520082689 -1073717157 41 0 66047 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:EN-US;} p.MsoAcetate, li.MsoAcetate, div.MsoAcetate {mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-link:”Balloon Text Char”; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:8.0pt; font-family:”Tahoma”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:EN-US;} p.MsoListParagraph, li.MsoListParagraph, div.MsoListParagraph {mso-style-priority:34; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:36.0pt; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:EN-US;} p.MsoListParagraphCxSpFirst, li.MsoListParagraphCxSpFirst, div.MsoListParagraphCxSpFirst {mso-style-priority:34; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-type:export-only; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:0cm; margin-left:36.0pt; margin-bottom:.0001pt; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:EN-US;} p.MsoListParagraphCxSpMiddle, li.MsoListParagraphCxSpMiddle, div.MsoListParagraphCxSpMiddle {mso-style-priority:34; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-type:export-only; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:0cm; margin-left:36.0pt; margin-bottom:.0001pt; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:EN-US;} p.MsoListParagraphCxSpLast, li.MsoListParagraphCxSpLast, div.MsoListParagraphCxSpLast {mso-style-priority:34; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-type:export-only; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:36.0pt; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:EN-US;} span.BalloonTextChar {mso-style-name:”Balloon Text Char”; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-unhide:no; mso-style-locked:yes; mso-style-link:”Balloon Text”; mso-ansi-font-size:8.0pt; mso-bidi-font-size:8.0pt; font-family:”Tahoma”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Tahoma; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-hansi-font-family:Tahoma; mso-bidi-font-family:Tahoma;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:EN-US;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:10881465; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1734201688 -1036630880 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-tab-stop:50.25pt; mso-level-number-position:left; margin-left:50.25pt; text-indent:-32.25pt;} @list l1 {mso-list-id:107241121; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:72403112 2047346714 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 {mso-level-start-at:3; mso-level-text:”%1\)”; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l2 {mso-list-id:171379075; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1382057224 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3 {mso-list-id:198905433; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:741535126 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:38.5pt; text-indent:-18.0pt;} @list l4 {mso-list-id:247464628; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-764610984 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l5 {mso-list-id:336151594; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1621429762 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l6 {mso-list-id:365105279; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:531931058 67698699 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l6:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; font-family:Wingdings;} @list l7 {mso-list-id:366953361; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1549511288 67698699 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l7:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; font-family:Wingdings;} @list l8 {mso-list-id:384989609; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1666829452 67698705 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l8:level1 {mso-level-text:”%1\)”; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l9 {mso-list-id:393240407; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1345367806 272683884 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l9:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:54.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l10 {mso-list-id:421100139; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:927785618 1066169194 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l10:level1 {mso-level-text:”%1\)”; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l11 {mso-list-id:522549443; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:653970110 -130008558 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l11:level1 {mso-level-start-at:2; mso-level-text:”%1\)”; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l12 {mso-list-id:680086567; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1993908004 1748549876 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l12:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; font-family:Wingdings;} @list l13 {mso-list-id:683214249; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1853564270 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l14 {mso-list-id:896479922; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:814002618 67698703 1748549876 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l14:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; font-family:Wingdings;} @list l15 {mso-list-id:979261333; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1692196044 1748549876 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l15:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; font-family:Wingdings;} @list l16 {mso-list-id:982612756; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-393335504 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l16:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:78.7pt; text-indent:-18.0pt;} @list l17 {mso-list-id:1032724444; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-236307074 69271569 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579;} @list l17:level1 {mso-level-text:”%1\)”; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l18 {mso-list-id:1087533381; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1935561600 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579;} @list l18:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l19 {mso-list-id:1093206273; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:409354998 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579;} @list l19:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:108.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l20 {mso-list-id:1224027476; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1186250916 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l21 {mso-list-id:1225288793; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-759120326 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l21:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:74.5pt; text-indent:-18.0pt;} @list l22 {mso-list-id:1271399149; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1798420402 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l22:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l23 {mso-list-id:1491167456; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1691802080 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l23:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l24 {mso-list-id:1510485264; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-480842182 -1036630880 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l24:level1 {mso-level-tab-stop:50.25pt; mso-level-number-position:left; margin-left:50.25pt; text-indent:-32.25pt;} @list l25 {mso-list-id:1545750557; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-30253636 67698699 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l25:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:54.0pt; text-indent:-18.0pt; font-family:Wingdings;} @list l26 {mso-list-id:1546521818; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1905579498 67698699 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l26:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; font-family:Wingdings;} @list l27 {mso-list-id:1560239598; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1769295868 -1036630880 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l27:level1 {mso-level-tab-stop:50.25pt; mso-level-number-position:left; margin-left:50.25pt; text-indent:-32.25pt;} @list l28 {mso-list-id:1587301140; mso-list-template-ids:-148351498;} @list l28:level1 {mso-level-text:%1; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:18.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l28:level2 {mso-level-text:”%1\.%2″; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:53.25pt; text-indent:-18.0pt;} @list l28:level3 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3″; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:106.5pt; text-indent:-36.0pt;} @list l28:level4 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4″; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:5.0cm; text-indent:-36.0pt;} @list l28:level5 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5″; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:195.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l28:level6 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6″; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:230.25pt; text-indent:-54.0pt;} @list l28:level7 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7″; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:10.0cm; text-indent:-72.0pt;} @list l28:level8 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8″; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:318.75pt; text-indent:-72.0pt;} @list l28:level9 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8\.%9″; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:372.0pt; text-indent:-90.0pt;} @list l29 {mso-list-id:1672831608; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1650267620 1748549876 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l29:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; font-family:Wingdings;} @list l30 {mso-list-id:1696733976; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1160287226 1748549876 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l30:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:18.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:18.0pt; text-indent:-18.0pt; font-family:Wingdings;} @list l31 {mso-list-id:1708139530; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:989073618 -1036630880 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l31:level1 {mso-level-tab-stop:50.25pt; mso-level-number-position:left; margin-left:50.25pt; text-indent:-32.25pt;} @list l32 {mso-list-id:1734042973; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-618901670 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l33 {mso-list-id:1745300123; mso-list-template-ids:-1533870344;} @list l33:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Symbol;} @list l33:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:o; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:”Courier New”; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l34 {mso-list-id:1830367693; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:2137299790 -1036630880 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l34:level1 {mso-level-tab-stop:50.25pt; mso-level-number-position:left; margin-left:50.25pt; text-indent:-32.25pt;} @list l35 {mso-list-id:1843814298; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:390391914 1202901632 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l35:level1 {mso-level-tab-stop:36.75pt; mso-level-number-position:left; margin-left:36.75pt; text-indent:-18.75pt;} @list l36 {mso-list-id:1910119115; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:750553784 1748549876 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l36:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; font-family:Wingdings;} @list l37 {mso-list-id:2050756630; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1575723420 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l37:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l38 {mso-list-id:2137135433; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1889159882 67698699 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l38:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; font-family:Wingdings;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-ansi-language:EN-US;
mso-fareast-language:EN-US;}

LAPORAN  HASIL  PENGAMATAN  DAN  OBSERVASI

TENTANG  PENDIDIKAN JASMANI ADAPTIF

USIA SEKOLAH  DASAR

DI

SLB BAKTI LUHUR

UM

Oleh:

HENDRA SETIAWAN

107711407016

FAKULTAS  ILMU  KEOLAHRAGAAN

JURUSAN PENDIDKAN JASMANI KESEHATAN DAN REKREASI

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

MARET 2009

KATA  PENGANTAR

Penulis mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga laporan hasil pengamatan dan observasi tentang pendidikan jasmani adaptif anak usia sekolah dasar di “SLB BAKTI LUHUR” Kabupaten Malang ini dapat penulis selesaikan peyusunannya.Dan laporan ini dibuat untuk mengisi tugas mata kuliah pendidikan jasmani adaptif  yang dibina oleh bapak Slamet Raharjo

Namun demikian,penulis yakin bahwa laporan ini banyak kekurangan di dalam proses penyusunannya.Untuk itu,penulis mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak demi penyempurnaan laporan ini.Selain itu,penulis berharap laporan ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan pembaca.

Akhir kata,penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian laporan ini.Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi para mahasiswa dan mahasiswi,serta pembaca pada umumnya.

Malang,16 Maret 2009

Penulis

DAFTAR  ISI

Kata Pengantar……………………………………………………………………………..

Daftar Isi……………………………………………………………………………………

Bab I    Pendahuluan

1.1 Latar belakang………………………………………………………………………………………………..

1.2 Rumusan masalah………………………………………………………………………………………….

1.3 Tujuan……………………………………………………………………………………………………………

1.4 Metode………………………………………………………………………………………………………….

Bab II   Inti Laporan

2.1 Definisi tentang tuna netra……………………………………………………….

2.2 Karakteristik dan srategi intruksional…….……………………………………..

2.3 Aktifitas yang disarankan dan dilarang……………. …………………………..

2.4 Hasil observasi di SLB bakti luhur………………………………………………

2.5 Pembahasan……………………………………………………………………..

Bab III  Penutup

3.1 Kesimpulan……………………………………………………………………..

3.2 Saran…………………………….………………………………………………

Daftar Pustaka…………………………………………………………………………….

Lampiran

LATAR BELAKANG

Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua, pendidik dan pemerintah/masyarakat. Semua orang berhak untuk mendapatkan pendidikan termasuk anak-anak luar biasa. Yang dimaksud anak luar basa adalah anak yang memiliki kelainan baik fisik, mental, sosial maupun emosi dan membutuhkan pelayanan pendidikan secara khusus. Melalui pendidikan, anak luar biasa diharapkan mampu hidup mandiri tanpa menggantungkan hidupnya pada orang lain. Lembaga pendidikan yang memberikan pelayanan pendidikan bagi anak luar biasa adalah Sekolah Luar Biasa (SLB).

Menurut sherril arti yang dimaksud dengan pendidikan jasmani khusus adalah sebagai berikut: Pendidikan jasmani khusus adalah satu system penyampaian pelayanan komprehensif yang dirancang untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah dalam ranah psikomotor. Pelayanan tersebut menckup penilaian. Program pendidikan individual, pengajaran bersifat pengembangan dan/atau yang disarankan, konseling, dan koordinasi dari sumber/layanan yang terkait untuk memberikan pengalaman pendidikan jasmani yang optimal kepada semua anak dan pemuda.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa pendidikan jasmani khusus adalah satu bagian khusus dalam pendidikan jasmani yang dikembangkan untuk menyediakan program bagi individu dengan kebutuhan khusus. Ada tiga program utama yang diberikan dalam perkembangan (French dan Jansma, 1982:8)

Pendidikan jasmani disesuaikan adalah pendidikan melalui program aktivitas jasmani tradisional yang dimodifikasi untuk memungkinkan individu dengan kelainan memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi dengan aman, sukses, dan memperoleh kepuasaan. Sebagai contoh, individu yang penglihatannya terbatas atau yang harus berada di kursi roda untuk berpindah tempat memerlukan peraturan permainan bola voli yang dimodifikasi atau memerlukan peralatan tambahan untuk bola gelinding.

Pendidikan jasmani korektif terutama mengacu kepada perbaikan kelainan fungsi postur dan mekanika tubuhPendidikan jasmani perkembangan mengacu kepada satu program kesegaran jasmani yang progresif dan atau latihan otot-otot besar untuk meningkatkan kemampuan jasmani individu sampai pada tingkat atau mendekati kemapuan teman sebakyanya.

Tujuan pendidikan jasmani khusus

1. Untuk menolong siswa mengkoreksi kondisi yang dapat di perbaiki.

2. Untuk membantu siswa melindungi diri sendiri dan kondisi apa pun yang akan memperburuk keadaannya melalui aktivitas jasmani tertentu.

3. Untuk memberikan kepada siswa kesempatan untuk mempelajari dan berpartisipasi dalam sejumlah macam olahraga dan aktivitas jasmani waktu luang yang bersifat rekreatif.

4. Untuk menolong siswa yang memahami keterbatasan kemampuan jasmani dan mentalnya.

5. Untuk membantu siswa melakukan  penyesuaian sosial dan mengembangkan perasaan memiliki  harga diri.

6. Untuk membantu siswa dalam mengembangkan pengetahuan dan apresiasi terhadap mekanika tubuh yang baik.

7. Untuk menolong siswa memahami dan menghargai berbagai macam olahraga yang dapat dinikmatinya sebagai penonton. (Crowe,1981:425)

Peran dari mereka yang terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan pendidikan jasmani khusus adalah sebagai berikut: (1) memberikan pelayanan langsung kepada siswa-siswa yang ber kelainan dan keluarga mereka; (2) memberikan latihan pra-jabatan dan /atau dalam jabatan. Pemberian pelayanan langsung dalam lingkup sekolah adalah langsung bekerja dengan anak yang berkelainan. Layanan langsung dalam bentuk mengajar dan menilai dapat diberikan atau dilakukan oleh seorang  spesialis dalam pendidikan jasmani khusus atau seorang guru pendidikan jasmani biasa yang telah dilatih atau memiliki kompetensi dalam pendidikan jasmani khusus.

8. Untuk menolong siswa mengkoreksi kondisi yang dapat di perbaiki.

9. Untuk membantu siswa melindungi diri sendiri dan kondisi apa pun yang akan memperburuk keadaannya melalui aktivitas jasmani tertentu.

10. Untuk memberikan kepada siswa kesempatan untuk mempelajari dan berpartisipasi dalam sejumlah macam olahraga dan aktivitas jasmani waktu luang yang bersifat rekreatif.

11. Untuk menolong siswa yang memahami keterbatasan kemampuan jasmani dan mentalnya.

12. Untuk membantu siswa melakukan  penyesuaian sosial dan mengembangkan perasaan memiliki  harga diri.

13. Untuk membantu siswa dalam mengembangkan pengetahuan dan apresiasi terhadap mekanika tubuh yang baik.

14. Untuk menolong siswa memahami dan menghargai berbagai macam olahraga yang dapat dinikmatinya sebagai penonton. (Crowe,1981:425)

Peran dari mereka yang terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan pendidikan jasmani khusus adalah sebagai berikut: (1) memberikan pelayanan langsung kepada siswa-siswa yang ber kelainan dan keluarga mereka; (2) memberikan latihan pra-jabatan dan /atau dalam jabatan. Pemberian pelayanan langsung dalam lingkup sekolah adalah langsung bekerja dengan anak yang berkelainan. Layanan langsung dalam bentuk mengajar dan menilai dapat diberikan atau dilakukan oleh seorang  spesialis dalam pendidikan jasmani khusus atau seorang guru pendidikan jasmani biasa yang telah dilatih atau memiliki kompetensi dalam pendidikan jasmani khusus.

Untuk dapat melaksanakan semua tugas dengan baik maka konsep program pendidikan individual harus digunakan. Konsep program pendidikan individual ini harus berisikan hal-hal seperti berikut:

1. Satu pernyataan tentang tingkat unjuk-kerja pendidikan anak pada waktu sekarang.

2. Satu pernyataan tentang tujuan-tujuan untuk satu tahun termasuk tujuan-tujuan instruksional jangka pendek.

3. Satu pernyataan yang khas pendidikan khusus dan pelayanan yang berkaitan dengan itu yang diberikan kepada anak, dan seberapa jauh anak akan sanggup berpartisipasi dalam program pendidikan reguler.

4. Satu pernyataan tentang kapan pelayanan akan dimulai dan lamanya itu diperkirakan berlangsung.

5. Satu pernyataan tentang kriteria tujuan dan prosedur evaluasi yang memadai serta rencana melaksanakannya untuk menentukan apakah tujuan-tujuan instruksional jangka pendek telah dicapai (Sherrill: 1981, 11)

Spesialis pendidikan jasmani khusus bertanggung jawab mengenai bagian program pendidikan individual yang berkaitan dengan ranah psikomotor. Kadangkala spesialis itu berpartisipasi langsung dalam proses program pendidikan individual.

6. Satu pernyataan tentang tingkat unjuk-kerja pendidikan anak pada waktu sekarang.

7. Satu pernyataan tentang tujuan-tujuan untuk satu tahun termasuk tujuan-tujuan instruksional jangka pendek.

8. Satu pernyataan yang khas pendidikan khusus dan pelayanan yang berkaitan dengan itu yang diberikan kepada anak, dan seberapa jauh anak akan sanggup berpartisipasi dalam program pendidikan reguler.

9. Satu pernyataan tentang kapan pelayanan akan dimulai dan lamanya itu diperkirakan berlangsung.

10. Satu pernyataan tentang kriteria tujuan dan prosedur evaluasi yang memadai serta rencana melaksanakannya untuk menentukan apakah tujuan-tujuan instruksional jangka pendek telah dicapai (Sherrill: 1981, 11)

Spesialis pendidikan jasmani khusus bertanggung jawab mengenai bagian program pendidikan individual yang berkaitan dengan ranah psikomotor. Kadangkala spesialis itu berpartisipasi langsung dalam proses program pendidikan individual.

Beberapa Manfaat dari Pendidikan Jasmani Khusus

Manfaat bagi jasmani

Penting bagi perkembangan maksimal dari jasmani. Melalui program pendidikan jasmani yang direncanakan dan dilaksanakan dengan baik pertumbuhan jaring-jaring otot dan tulang dirangsang.

Manfaat bagi keterampilan gerak

Guru yang professional dan berkemampuan dapat membantu tiap anak mengembangkan secara paling efisien koordinasi syaraf-otot (neuromuscular), ketrampilan gerak, dan gerak-gerak kreatif.

Manfaat bagi kesegaran

Melalui satu program pendidikan jasmani yang seimbang kekuatan tubuh, daya tahan, kelentukan, dan mobilitas dapat dikembangkan dan dipertahankan, dan dapat membantu anak mengembangkan tingkat kesegarannya yang optimal untuk kehidupan sehari-hari.

Keuntungan emosional

Sebagian besar dari aktivitas jasmani melibatkan emosi. Umpamanya, dalam waktu realatif singkat, sikap anak dapat berubah dari sangat kecewa ke kegembiraan. Anak dapat belajar untuk menguasai emosinya dan prilaku lainnya dengan baik melalui bimbingan dari guru pendidikan jasmani dan peraturan dalam tiap jenis permaianan.

Keuntungan sosial

Pendidikan jasmani memberikan kesempatan untuk interaksi social dalam lingkungan yang bervariasi, dan dapat membantu baik anak berkelainan maupun yang tanpa kelainan belajar menerima perbedaan individual dari manusia.

Keuntungan bagi kecerdasan

Setiap kali anak berpartisipasi dalam permainan yang disajikan dalam pendidikan jasmani, olah pikir diperlukan. Sejumlah pakar berpendapat bahwa tingkat kesegaran jasmani berhubungan dengan pencapaian intelektual, khususnya kesiapan mental dan konsentrasi.

RUMUSAN MASALAH

1. Apakah yang di maksud dengan tuna netra?

2. Bagaimana karateristik dan strategi intruktusionalnya?

3. Apakah aktifitas yang di sarankan dan di larang pada tuna netra?

TUJUAN

1. Mengetahui apa yang di maksud dengan tuna netra

2. Mengetahui karakteristik dan strategi intruktusional

3. Mengetahui aktifitas yang di sarankan dan di larang pada tuna netra

METODE

Penulisan laporan mengenai permainan pada pendidikan adaptif pada usia dasar kelas 1 pada siswa SLB ini harus memiliki metode permainan yang baru agar siswa tidak bosan dengan permainan yang ada sebelumnya.Metode ini di lakukan agar guru dapat memberikan permainan baru pada siswanya.

INTI LAPORAN

1. DEFINISI TUNA NETRA

Anak dikatakan tuna netra apabila mereka kehilangan daya lihatnya sedemikian rupa sehingga tidak dapat menggunakan fasilitas pendidikan anak awas atau normal pada umumnya sehingga untuk mengembangkan potensinya diperlukan layanan pendidikan khusus. Tuna netra di bagi menjadi dua yaitu :

  1. Kurang awas (low vision), yaitu seseorang dikatakan kurang awas bila ia masih memiliki sisa penglihatan sedemikian rupa sehingga masih dapat sedikit melihat atau masih bisa membedakan gelap dan terang.
  2. Buta (blind), yaitu seseorang dikatakan buta apabila ia sudah tidak memiliki sisa penglihatan sehinga tidak dapat membedakan gelap dan terang.

CIRI-CIRI FISIK :

¯ Memiliki daya dengar yang sangat kuat sehingga dengan cepat pesan-pesan melalui pendengaran dapat dikirim ke pusat pengertian di otak.

¯ Memiliki daya pendengaran langsung dapat dikirim kepusat pengertian di otak.

¯ Kadang-kadang mereka suka mengusap-usap mata dan berusaha membelalakkannya.

¯ Kadang-kadang mereka memiliki prilaku yang kurang sedap bila dilihat oleh ornag normal pada umumnya atau dengan sebutan Blindism (misalnya ; mengkerut-kerutkan kening, menggeleng-gelengkan kepala secara berulang-ulnag dengan tanpa disadarinya)

CIRI-CIRI MENTAL :

¯ Merasa tidak percaya diri dalm bersosialisasi.

¯ Mengalami tttekanan batin dengan adanya cemooh dari orang yagn normal.

¯ Merasa dirinya tidak berguna karen aselalu menyusahkan orang lain.

CIRI-CIRI SOSIAL :

¯ Mengalami kesulita dalam berkomunikasi.

¯ Selalu membutuhkan orang lain dalam melakukan kegiatan.

2. KARAKTERISTIK DAN STRATEGI INSTRUKTUSIONAL

Sebagaimana telah diuraikan di atas umur terjadinya kehilangan penglihatan dan tingkat kehilangan merupakan penentu bagi kebutuhan pengajaran khusus. Akibat yang paling gawat akan dihadapi peserta didik yang mempunyai kelainan penglihatan tersebut bila umurnya kurang dari 16 tahun. Charles Buell, seorang pakar salam pendidikan jasmani untuk mereka yagn terbatas penglihatannya menyatakan bahwa ”Kebutaaan bukanlah sebuah tragedi, bahkan ia merupakan gangguan yang dapat dikompensasikan atau diatasi”(1973h.9). Sebagian suatu pedoman Buelll mengajka satu daftar saran yang penting yang  telah disesuaikan untuk digunakan dalam bidang pendidikan jasmani. yaitu diantaranya :

  1. Tolong langsung memanggil nama saya dan bukan melalui teman atau pemandu saya.
  2. Saya dapat berjalan lebih tenang bersama anda dari pada dengan anjing atau tongkat. Tetapi jangan memegang lengan saya atau mencoba mendorong saya, biar saya memegang lengan anda. Saya akan berjalan satu langkah di belakang anda untuk mengantisispasi anak tangga. Turun tanggga saya lebih menyukai berpegangan pada pagar tangga, Bila saya diberi arah, jelaskna apakah maksud sebelah kanan anda atau saya.
  3. Berbicaralah kepada saya apabila anda memasuki ruangan dan jelaskan siapa anda, jangna saya diminta menerka nama. Perkenalkan saya kepda orang lain termask anak-anak. Bimbing tangan saya kelengan atau sandran kursi.
  4. Bagi saya, Pintu- pintu harus tertutup total atau terbuka lebar, pintu yang setengah terbuka merupakan satu bahaya, demikian pula mainana yang teletak di lantai.
  5. jangan hindari kata seperti ”lihat” saya juga menggunakanya! Saya selalu gembira melihat anda.
  6. Saya tidah mengiingkna belas kasihan. Tetapi jang berbicara tentang ”kompensasi yang menakjubkan” dari kebutaaan apapun yang telah saya pelajari diperoleh dengna kerja keras.
  7. Saya akan mendiskusikan kebutuhan dengan anda bila anda ingi tahu, ttetap bagi saya itu adalah suatu cerita lama. Saya mempunyai perhatina lain sma banyaknya dengna anda.
  8. jangan memikirkan saya sebagia orang buta. Saya adalah seorang yang kebetulan buta (1973,h. 11).

3. AKTIVITAS YANG DISARANKAN DAN DILARANG

Menurut French dan jansman (1982.h.208) beberapa alasan tidak mengikuti aktivitas jasmani:

¯ Rasa takut dari guru dan administrator atau penglelola sekolah.

¯ Tidak mempengaruhi tentang pendekatan pengajaran yang efektif bagi yagn berpengliharan terbatas dalam pendidikan jasmani.

¯ Sikap negatif terhadap peserta didik yagn berpenglihatan terbatas yang berada dalam kelas.

¯ Terlalu menekan pada tujuan vokasional.

¯ Terlalu dilindungi oleh ornag tua atau wali

¯ Terlalu mudahnya doktter memberikan surt keterangnan agar yang berpnglihatan terbatas tidak perlu iku  t aktivitas jasmani.

a. Kesegaran jasmani dan gerak

Peserta didik berpenglihatan terbatas seharusnya membutuhkan kesegaran yang lebih daripada yang berpenglihatan normal, karena bagi yang berpenglihatan terbatas melakukan satu gerak memerlukan usaha yang lebih banyak dari pada diperlukan (Buell,1973).

Cara-cara meningkatkan kekuatan :

  1. Angkat beban menggunakan alat Universal (mulai dengna tanpa beban agar terlebih dahulu menguasai mkeanika mengangkat da setelah itu di beri beban)
  2. Latihan Isometrik
  3. Memanjat tali atau jala yang digantungkan. Perlu diingat bagi penderita glaucoma, karena aktivitas itu dapat meingkatkan tekanan pada bola mata.

Aktivitas kunci dari kardiovaskuler yagn dapat dilakukan secara aman dan berhasil bagi peserta didik berpenglihatan terbatas dapat berupa :

¯ Lari ditempat

¯ Gunakan sepeda latihan (sepeda yagn berada di tempat)

¯ Gunakan mesin mendayung

¯ Lari menempuh jarak tertentu (ada pelari marathon yang buta)

Cara- cara membantu dalam lari :

Cukup banyak cara yang berguna untuk membantu eserta didik berpenglihatan terbatas dalam lari jarak jauh. Pelari berpenglihatan terbatas dapat mendengar suara dari pelari berpenglihatan normal (usahakan agar suara-suara yang lain tidak mengganggu suara atau tanda dari yang melihat normal): Memegang siku pembatu yang berpenglihatan normal (pelari yang berkelainaan ½ langkah kesamping dan ½ langkah di belakang pelari yang normal matanya): memegang tali atau kabel yang di pegang oleh pelari yang normal matanya: ikiti garis kuning atau orange (bagi berpenglihatan residual) . Namun, alat apapun yang harus dipegang oleh pelari yang berenglihatan terbatas akan menghalangi lengna yang normal berayun dalam lari yagn efisien. Satu alternatif lain adalah menyuruh teman yang dapat melihat bersepeda disamping pelari yang berpenglihatan terbatas. Teman yang bersepeda itu dapat berbicara, stu alat yang dapat berbunyi di pasang disepeda (Gallagher,1977)untuk memberi arah. Akhirnya, semakin hilang penglijatan semakin telihat penyimpangan mekanika tubuh. Satu teknik untuk melatih mekanika tubuh adalah menyuruh yang berkelainan memeriksa dengan cara meraba boneka atau menekuni bagian- bagiannya dapat bergerak. Satu teknik lain adalah menggunakan kipas angin. Udara yang dihembuskan oleh kipas angin yang besar ke bagian depan dari tuuh dapat merangsang kesadaran tentang bagian- bagian tubuh: umpamanya yang bersangkutan dapat diminta untuk mengangkat atau menundukkan kepalanya untuk mendapat terpaan angin.

b. Keterampilan dan pola gerak dasar

Kelas pendidikan jsmani perlumencakup berbagai macam aktivitas jasmani yang tidak rumit yang dapat mengembangkan kedua kebutuhan tersebut disamping keseimbangan. Berbagai macam aktivitas ini dapat berupa:

  1. Menyebutkan bagian-bagian tubuh.
  2. Menggerakkan bagian-bagian tubuh secara terpisah.
  3. Mengkoordiansikan gerak dari dua bagian tubuh.
  4. Menggerakkan benda dengan berbagai bagian tubuh.
  5. merasakn ukuran dari berbagia bagian tubuh.
  6. Mengidentifikasi bagian-bagian tubuh dari teman yang lain.
  7. Memelihara keseimbangna di atas balok keseimbangan yang randah.

Keterampilan gerak berpindah tempat :

Peserta didik bepenglihatan tebatas sering terbelakang dalam perkembangan keterampilan gerak berpindah tempat yang baik. Sejumlah mereka berjalan dengan dua tungkai terpisah lebar (mengangkang). Kebiasaan ini memperlebar tumpuan tubuh dan hal ini mungkin berkaitan dengan kurang percaya diri dalam gerak dan juga karena kesimbangan kurang. Mereka ini juga cenderung membuat langkah yang lebar dan tinggi seakan-akan melangkahi suatu objek yang tidak diketahui. Sering kesalahan yang sama terlihat pada keterampilan lain seperti lari. Peserta didik yang mempunyai kebiasaan ini perlu diberi tahu tentang masalah yang dihadapinya dan berlatih berjalan dengan baik sehinggga mereka memiiki umpan balik kinestetik yang tepat dan membentuk pola gerak baru. Untuk mengkoreksi kaki mengarah ke luar dan berjalna di atas papan dengan lebar terbatas atau berjaln diantara dua papan atau tongkat atau tali yagn diletakkan di lantai, yang cukup lebar untuk megakomodasi dua kaki. Belajar berjalna dalm satu arah yagn lurus juga penting bagi peserta didik berpenglihatan terbatas.

Gerah dasar khususlainnya dapat diajarkan kepada peserta diidk yagn cacat penglihatannya. Melempar adalah ketrampilan yang paling tidak dikuasainya. Bila dianalissi secara teliti, gerak melempar merupakan keterampilan yang rumit, bahkan juga bagi mereka yang memperoleh keuntungan dari contoh melempar. Walaupun peserta didik yagn buta dapat mengembangkan pola melempar yang baik dengan latihan tertentu,energi dan waktu yang digunakan mungkin lebih baik dimanfaatkan untuk melatih keterampilan gerak lain yang dapat digunakan sepanjang hidup.

Menyepak, melompat, meloncat dan berlari dapat diajarkan dengan sedikit penyesuaian (adaptasi). Latihan menyepak kaleng kosong yang membuat suara yang cukup keras pada lantai keras dan jarak utuk memperolehnya kembali tidak jauh. Meloncat dan melompat dapat diajarkan di trampolin dengan melekatkan lonceng pada pusat trampolin. Lari dapat diajarkan dengan mengaitkan kedua tangan penderita dengan tangan dua teman yang bergerak di kiri dan kanannya, jadi menyalurkan perintah kinestetik secara terus menerus . teknik ini dapat pula dipakai untuk anak tuna rungu. Karena peserta didik berpenglihatan terbatas tidak dapat menerima masukan visual, harus tergantung pada informasi yang kurang tepat dari sumber indera lain. Informasi ini tidak segera dapat digunakan untuk meniru gerak keterampilan dasar. Sebab itulah maka latihan gerak dasar harus dilakukan dalam jangka waktu yang lama.

c. Aktivitas individu dan kelompok

French dan jansma memberikan bebrapa pedoman untuk megdaptasikan permaianna agar peserta didik berpenglihatan terbatas dapat diambil bagian secara aman dan sukses (1981,h.211-212)

  1. Tempatkan alat yang berbunyi dalam bola, pada keranjang, pada gawang, dan pada tempat hnggap (base).
  2. gunakan formasi rantai (rabaan).
  3. Aktivitas dimulai dari tempat yang tetap.
  4. Manfaatkan keadaan permukaan tempat bermain (rumput yang tingginya berlainana, pasir, tanah) untuk menyatakan batas lapangan permainan dan daerah luar batas permainan.
  5. Ubah susunan (tekstur) dari alat.
  6. Gunakan dinding yang telah dilapisi/ditutup dengna bahan yang empuk.
  7. Gunakan warnah yang cerah dari objek aktivitas dan tanda batas-batas.
  8. Gunakan sempritan, memanggil atau meneriakka nama.
  9. Ukurna lapangna permainan diperkecil.
  10. Batasi jumlah peserta dari kedua tim.
  11. Bermain dengan gerak lambat bila memperkenalkan permainan baru.
  12. Gunakan tanda atau bau sebagai tanda dalam situasi tertentu.
  13. Beritahu pemain yang buta apabila seorang pemain kunci meninggalkan lapangna atau daerah permainan.

Berikut aka disajikan dua contoh aktivitas dasar yagn digunakan oleh peserta tunanetra:

  1. Bila para peserta didik secra tetap berhubungan dengan parasut tidak diperlukan modifikasi. Peserta didik dapat diambil bagian dalam banyak gerak dasr termasuk semua tipe gerak berpindah tempat (locomotion).
  2. Dalam permainan pengantar (lead-up game) seperti bola sepak (kickball) yang bertujuan untuk mengembagnkan kemampuan menyepak, menangkap bola dan memperkenalkan peraturan permaiann softball, di dalam bola diberi alat yagn berbunyi. Pemain lapangan yang buta untuk mematikan pelari ketempat hinggap, hanay perlu menghentikan atau mengambil bola yang telah disepak pelari. Pitcher menggelindingkan bola ke penyepak melalui tempat hingga (base). Penyepak dapat lari ke tempat hinggap yang mengeluarkan bunyi atau suara orang atau bunyi sempritan untuk memberikan arah lari.

Contoh aktivitas yang disesuaikan

Berikut ini diberika bebrapa contoh aktivitas yagn disesuaikan yang dapat digunakan bagi peserta tunanetra yang lebih berumur.

  1. Dalam gulat, hubungna harus selalu ada dalam pertandingan. Peserta didik tunanetra ada yagn menonjol prestasinya dalm gulat antar sekolah.
  2. Peserta didik tunanetra dapat sukses dalam atletik seperti dalam nomor tolak peluru, lempar cakram, lompat jauh dengna dan tanpa awalan. Dalam tolak peluru dan lempat cakram, temannya yang tidak buta membantu peserta tunanetra untuk mengambil pisisi yang baik untuk setiap melakukan tolakan ataulemparan. Dalam melakukan lompat jauh perubahan sifat permukaan tanah dapat memberikan daerah peringatan dan tempat melkukan tumpuan lompatan.
  3. mengendari sepeda tamdem dapat berhasil bila peserta didik tunanetra duduk di sadel belakang.

Ada beberapa aktivitas yang tidak disarankan untuk tunanetra, seperti permainan tenis dan squas; aktivitas yagn memerlukan kelincahan: aktivitas yang mengharuskan peserta lari dari arah yang berlawanan: aktivitas jungkir-balik (tumblig) bagi penderita glucoma.

Tuna netra adalah istilah umum yang digunakan untuk kondisi seseorang yang mengalami gangguan atau hambatan dalam indra penglihatannya. Berdasarkan tingkat gangguannya/kecacatannya Tunanetra dibagi dua yaitu buta total (total Blaind) dan yang masih mempunyai sisa penglihatn (Low Visioan).

·

KELAINAN PENGLIHATAN

Definisi

Menurut French dan jasmani (1982:199) kelainan penglihatan mempunyai definisi  pendidikan dan hukum .Berdasarkan undang-undang dan peraturan di Amerika;

“Kelainan penglihatan”berarti satu penglihatan yang kabur yang walaupun dengan koreksi,secara tidak menguntungkan akan mempengaruhi unjuk kerja pendidikan dari peserta didik.Istilah ini mencakup baik peserta didik yang setengah buta maupun yang buta sama sekali.

Istilah seengah buta dan buta mempunyai definisi hokum yang lebih tepat untuk di gunakan dalam pendidikan,pekerjaan dan kegunaan lainnya.Menurut Perkumpulan Nasional untuk pencegahan Kebutaan (National society for the Prevention of blindness,1966),10% dari penglihatan normal mata terbaik setelah kolerasi dapat

Di anggap kebutaan legal,dan ketajaman penglihatan yang sama dengan kira-kira 30% dari penglihatan normal pada kondisi yang sama dapat di anggap sebagai penglihatan sebagian.Penglihatan sebagian juga termasuk individu yang penlihatannya berada antara rentangan 10% sampai 30% dari penglihatan normal.Selain itu ,kkebutaan legal didefinisikan menurut bidang penglihatan.Bila seseorang dapat melihat hanya 20 derajat dari bidang penglihatan,ia juga dianggap buta legal,walaupun ketajaman penglihatannya dalam rentangan normal.Tes yang paling umum digunakan untuk menentukan ketajaman pada jarak yang berbeda adalah Snellen Test.

Perlu di pahami dengan baik bahwa orang yang buta legal masih dapat memiliki penglihatan residual.Jadi,diperlukan istilah yang lebih khusus untuk mnerangkan kelainan penglru penlihatan.Biasanya guru pendidikan jasmai akan selalu di tantang karena akan mempunyai peserta didik dengan berbagai tingkat keterbatasan penglihatan dalam kelas regulernya.Populasi baru ini biasanya mencakup mereka dengan penglihatan funsional atau residual.Guru pendidikan jasmani juga akan mempunyai peserta didik yang belum pernah didiagnosis mempunyai keterbatasan penglihatn yang bermakna,tetapi telah melakukan kompensasi denagn berbagai cara untuk mengatasi keterbatasan penglihatan  mereka.Sesungguhnya,seorang peserta didik mungkin tidak menyadari adanya masalah penglihatan ini sekiranya ia mempunyai masalah tersebut.Oleh karena itu para guru memerlukan kecermatan observasi mengenai peserta didiknya agar ia dapat mengetahui mereka yang mempunyai masalah penglihatan,yang selanjutnya di minta untuk memeriksakan mata kepada spesialis mata.

·

Metode Pembelajaran yang di gunakan di SLB Bakti Luhur

1) Buku Panduan (Referensi)

Sampai saat ini di SLB bakti Luhur dalam kaitaanya unutk pembelajaran pendidikan jasmani tidak menggunakan buku panduan(referensi) satupun. Guru hanya berbekal pada sebatas pengetahuan mereka tentang olahraga.

2) Metode pembelajaran Pendidikan jasmani

Merka tidak membuat suatu rancangan pembelajaran untuk pendidikan jasmani yang jadi untuk pendidikan jasmani mereka hanya menerapkan ke aktivan siiswa saja. Maksudnya apabila siswa dan siswi sudah jenuh dlam melakukan aktifitas stersebut dengan sendirinya mereka menghentikan pembelajaran tersebut. Pada kelas yang kami lakukan observasi terdapat 8 siswa yaitu 2 siswa mengalamikelainan ganda ddan 6 siswa yang lain mengalmai tuna netra biasa.

Kelas ini disebut keas intuisi, dan apabila dalm kelas intiusi inisiswa dapat berkelakuan baik mereka akan di pindahkan ke kelas 1.

3) Olah raga yang di berikan di SLB Bakti Luhur

Olahraga yang di berikan di SLB Bakti Luhur cukup befariasi yang terutama di berikan pada Kelas nol kecil disini ada beberapa jenis olahraga diantaranya:

Jungkir balik menggunakan matras, sit up, lempar tangkap bola yang di beri alat bunyi di dalam bola, senam. Di sekolah ini sudah sering mengirimkan atlitnya untuk mengikuti perlombaan suatu cabang olahraga yang di ikuti diantaranya lempar lembing, lempar cakram dan jalan cepat.

Semua aktifitas ini rutin di lakukan pada saat jam olharaga tapi juga kadang-kadang tidak semuanya tergantung pada minat anak atau tingkat daya tahan fisik dari masing-masing anak. Apabila anak sudah terlihat bosan mereka akan dengan sendirinya pindah ke kegiatan yang lain, misalnya saja belajar berhitung menggunakan alat hitung, belajar menghafal huruf menggunakan braile dan juga fasilitas komputer.

4) Guru pengajar di SLB Bakti Luhur

Lebih segnifikannya lagi di sekolah tersebut tidak mempunyai guru olahraga dikarenakan sangat slutnya mencari guru yang bisa mengerti tentang kadaan siswa yang berkelainana atau cacat. Tapi menurut informasi yang kami terima dari pihak guru dulu sempat ada guru olahraganya tapi sekarang guru tersebut telah lepas tugas dari sekolah tersebut.

Persiapan Untuk Pelajaran Aktivitas Jasmani

Karakteristik

Karakteristik Instruksional

Psikomotor

1. Semakin besar keterbatasan penglihatan, semakin besar kendala untuk seluruh perkembnagnan psikomotor.

2. Masalah-masalah gerak dan kebugaran terlihat dalam pola gerak yang rumit dan bagi mereka banyak kehilangan penglihatan dimulai pada usia kanak-kanak.

3. Yang berpenglihatan terbatas mengikuti uturan perkembangan gerak normal tetapi dengna kecepatan lambat, terutama disebabkna kurang pengalaman gerak dan kesulitan dalam orientasi ruang.

4. Skor kesegaan jasmani dari yang berkelainana penglihatan meningkat dengna bertambahnya umur.

Aktifitas keseimbangan

1. Kemmapuan keseimbagnna dari peserta didik berpenglihatan terbatas berada di bawah normal.

Latihan meningkatkan  tonus dan kekuatan otot

2. Peserta didik berpenglihatan terbatas cenderung mempunayi sikap tubuh yang salah. Kekauan mmebungkukkan ke depan untuk meraba objek adalah hal yang biasa bagi mereka.

3. Peserta diidk berpenglihatan terbatas kususnya kurang baik dalam lari dan melempar, terutama karena bambar tubuh (body image) yang kurnag baik.

Gambar tubuh

1. Gambar tubuh keselurhan dari individu berpenglihatan terbatas cenderung kurang.

2. Peserta didik berpneglihatna terbatas cenderung mempunyai kelebihan berat badan.

3. Kacamata, lensa kontak atau alat pembesar yang di pegang iasa digunakan oleh individu yang berpenglihatan terbatas.

Kognitif

1. Intelegensi individu berpenglihatan terbatas bervariasi sangat besar seperti teman sebayanya berpenglihatan noraml.

2. Karena pencapaian akademik sebagian besar berdasarkan pada kemmapuan membaca, prestasi akademik itu akan terhalang disebabkan penglihatan hanya sebagian atau hilang sama sekali.

3. Rentangan dari kesadaran kognitif secara keseluruhan cenderung terbatas bila dibandingkan dengan orang berpenglihatan normal.

Afektif

1. Banyak orang berpenglihatan terbatas kurang percaya diri dan perasa terhadap nilai.

Orientasi tentang lingkungna dan alat

2. Banyak peserta didik berpenglihatan terbatas kurang inisiatif bila ikut aktivitas gerak otot-otot besar.

3. pengalaman bermaina yagn spontan dan terstruktur sering sangat terbatas untuk peserta didik berpenglihatan terbatas. Perkembangna sosial mereka cenderung terlambat.

4. Takut gerak dan terlalu tergnatung pada orang lain merupakan karaktteristik dari peseta didik berpenglihatan terbatas.

5. Peserta didik berpenglihatan terbatas cenderung sangat verbal, karena mereka tidak dapat memperhatikan tanda-tanda non vebal.

6. Beberapa individu dengna penglihatna terbatas mungkun cenderung berpura-pura mempunyai penglihatan lebih baik utuk memberikan kesan bahwa mereka normal.

7. Beberapa individu yang buta tidak kecewa dengan kadaan mereka dan malahan bangga atas keterampilan yang telah dikuasai.

1. Persiapan untuk pelajaran aktivitas jasmani dengan pada awal meyakini bahwa peserta didik telah memperoleh orientasi dan pelajaran mobilitas di dalam dan di luar ruang sedini mungkin.

2.

PEMBAHASAN

Sebenarnya cukup banyak variabel dari penelitian ini yang dapat diolah dan dianalisa seperti sarana prasarana, guru pendidikan jasmani dan sebagainya. Namun mengingat keterbatasan waktu, pada kesempatan ini kami hanya mengolah dan menganalisa data hasil penelitian secara global saja yang meliputi tentang berbagai macam permainan yang tersaji di sekolah ini Pada observasi kemarin di SLB Bakti Luhur kami mengamati berbagai macam permainan di sekolah tersebut. Disana terdapat 4-5 permainan yang ada dan itu digunakan setiap kali pertemuan diantaranya adalah:

1. Permainan lempar bola

2. Permainan tangkap bola

3. Senam matras

4. Senam  irama

Siswa akan merasa bosan jika setiap kali mereka mendapat permainan yang sama tiap pertemuan maka dari itu kami membuat masukan untuk menambah permainan yang ada biar siswa dapat merasakan permainan yang baru dan mereka tidak bosan dengan permainan yang ada sebelumnya.Kami memberi 3 permainan baru diantaranya adalah:

1. Permainan Boling

Permainan boling ini membutuhkan 5 kaleng minuman yang dapat berbunyi misalnya: kaleng sprit,fanta,dll.Setelah itu Kami membuat lapangan boling dengan kapur tulis.Kemudian kami membuat garis untuk tempat kaleng dan garis lempar untuk tempat si pelempar.Kemudian kami membuat garis tengah untuk jarak kaleng dengan jarak si pelempar denagn ditengarahi dengan tali raffia ditengah-tengahnya.Dan yang terakhir adalah bola untuk si pelempar.

2. Permainan balap lari

Dalam permainan ini kami hanya membutuhkan kapur tulis untuk membuat garis untuk lintasan dan membuat garis start dan finish

Sistem pemainannya adalah Kami membuat 2 lintasan untuk 2 pelari dengan sistem kerja sebagai berikut : pelari akan berlari mengikuti suara tepukan tangan yang ada di depan mereka

3. Permainan menendang Bola

Permainan ini membutuhkan 2 batang kayu yang memiliki panjang 80cm,dan 1 batang kayu dengan panjang 1m.Kemudian tali rafia yang akkan digunakan untuk membuat gawang.Kemudian kapur tulis untuk membuat garis untuk tempat si penendang.Dan yang terakhir adalah bola untuk si penendang.

SKEMA PERMAINAN

Permainan  pada tuna netra yang kami berikan ada 3 yaitu:

1) Permainan Boling

Alat yang di gunakan:

Ø Tali rafia

Ø Kaleng minuman yang dapat bersuara

Ø Bola yang dapat berbunyi

Aturan permainan:

Ø Pertama 5 buah kaleng di tata berada 2meter dari garis start

Ø Kedua kita buat garis lurus antara garis start dengan tempat kaleng dengan menggunakan tali rafia

Ø Ketiga siswa yang melakukan berada di garis start kemudian memegang tali rafia yang lurus dengan kaleng yang berada di depan

Ø Keempat siswa yang berada di garis start akan melempar bola

2 meter

Garis Start

 

Down Arrow:                2 meter

2) Permainan balap lari

Alat yang digunakan :

Ø Kapur tulis

Aturan permainan :

Ø Pertama dua siswa berada di garis start

Ø Kedua ada dua orang berada di samping yang akan memmberi aba-aba dengan memberi tepukan tangan yang harus didengar oleh pelari

Ø Ketiga pelari akan berlari mengikuti suara tepukan tangan yang ada di depan mereka hingga finish

Finish

Start

5 Meter

Down Arrow:                    5 Meter

3) Permainan menendang bola

Alat yang di gunakan :

Ø 2 potong kayu yang tingginya kira-kira 80cm,lebar 100cm

Ø Tali raffia

Ø Kapur tulis

Ø Bola plastik yang dapat berbunyi

Aturan permainan :

Ø Pertama kita membuat garis sepanjang 5m antara gawang dan tempat penendang

Ø Kedua bagi siswa yang akan menendang berada di tempat penendang

Ø Ketiga siswa akan menendang bola ke gawang yang tidak ada kipernya

5 meter

bola

Up Arrow:          5 meter

PENUTUP

Kesimpulan

Secara umum jenis permainan yang ada pada sekolah untuk tuna netra banyak tapi sayang permainan itu tidak di terapkan dengan baik atau hanya berkesan monoton sehingga dapat membuat siswa akan merasa bosan atau jenuh.Dan mereka tidak akan mengetahui berbagai macam permainan yang ada.Oleh sebab itu kami melakukan observasi dan memberikan berbagai macam permainan baru agar siswa tidak bosan denagn perminan yang ada sebelumnya dan mereka juga dapat mengenal berbagai macam permainan yang baru dan mereka dapat mencoba menerapkan permainan itu.

Saran

Perlengkapan fasilitas untuk tuna netra harus diperlengkap sehingga dapat melakukan aktifitas jasmani secara optimal dan maksimal.dan jika fasilitas untuk tuna netra tidak mendukung maka aktifitas jasmani tidak akan berjalan secara maksimal.jadi setiap pengurus untuk menyiasati dengan cara memodifikasi permainan-prmainan sehingga aktifitas jasmani bisa berjalalan dengan baik selain itu juga bisa menghemat pengeluaran.

PERTANYAAN

1. Fany Widiasari

Apakah anak tuna netra mempunyai pandamping khusus dalam melakukan kegiatannya di sekolah?

2. Andi Priawan

Apakah di SLB bakti luhur ada alternatif buat penyembuhan tuna netra?

3. Eko Yudha K.

Apakah kesulitan yang di alami saat memberikan pengajaran olahraga di sana ?

4. Eko Budi

Mungkinkah tuna netra dapat disembuhkan?

5. Adin Karyawan

Apakah ada olahraga khusus tuna netra disana?

6. Reza

Apakah pernah ada salah satu siswa disana yang mengikuti kejuaran di luar sekolah?

JAWABAN

1. Ada ini bertujuan agar perilaku siswa dapat di amati secara langsung dan hal-hal yang tidak di inginkan dapat dihindari.

2. Menurut pengamatan yang kemarin kami lakukan di bakti luhur tidak ada tempat alternatif untuk tuna netra tapi untuk yang lain ada.

3. Mungkn kesulitan yang kami alami adalah cara pemberian materi karena kami belum begitu tau bagaimana cara yang benar maengajar tuna netra dengan bahasa isyarat.

4. Tergantung melihat parah tidaknya, kalau biasanya yang sejak lahir sudah begitu mungkin sulit untuk disembuhkan tapi, yang tidak begitu parah bisa disembuhkan.

5. Di sana tidak ada olah raga khusus sebenarnya sama tapi alatnya yang dibuat berbeda dari bola atau lainnya.

6. Ada tapi tidak di kelas yang kami observasi,itu terjadi di kelas lain yang pernah mengikuti kejuaraan di tingkat Jawa Timur tepatnya pada cabang tolak peluru

LAMPIRAN

200220091911DSC00351200220091912DSC00353

200220091918

200220091917

200220091925
200220091924

200220091922 200220091919
200220091920 DSC00280
200220091913 DSC00278
DSC00282 DSC00343

DSC00344

DSC00347 DSC00349

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: