Teknik – Teknik Mengurangi Kepekaan (Dezensitizazion)

Beberapa teknik yang telah dicoba oleh ahli – ahli psikologi untuk mengurangi anxiety yang berlebihan pada individu yang memperlihatkan ketakutan dalam menghadapi situasi, yaitu :

B.1. Teknik Jacobson dan Schultz

a)                  Mengurangi betapa pentingya pertandingan dalam benak atlit.

b)                  Mengurangi ancaman – ancaman hukuman bagi atlit apabila ia gagal.

B.2. Teknik Cratty

Salah satu teknik kepekaan terhadap ketegangan – ketegangan yang diperkenalkan oleh Cratty (1973) adalah :

Dalam teknik ini terlebih dahulu membuat daftar yang menyebabkan atlit merasa bimbang, takut, cemas. Daftar tersebut disusun menurut urusan dari yang palng ditakuti sampai dengan hal yang paling kurang ditakuti. Dengan teknik ini pertama – tama kita hadapkan pada siuasi yang membangkitkan anxiety yang paling rendah padanya dan menyuruh (memberikan kesempatan) untk membiaakan diri terhadap situasi demikian.

B.3. Teknik Progresive Muscle relaxion.

Dengan latihan ini seseorang dapat menjadi rileks pasa otot – ootnya sekaligus juga mengurangi reaksi emosi yang bergelora, bak pada sistem syaraf psat maupun pada sistem syaraf otonom. Atlit yang biasa atau takut ototnya biasanya menjadi tegang, dan jka otot tagang maka keterampilan oto fisiknya akan terganggu maka otot –otot tersebut dibuat rileks. Oleh karena itu, memeksa otot untuk rileks tidaklah mudah, apalai dalam situasi tagang. Maka orang harus melaihkan diri untuk bisa merilekskan otot – otot yang tegang tersebut. Lebih dri itu ia harus secara sadar menontrol, menguasai dan mengatur otot –otot agar bisa rileks.

Jacobson berpendapat bahwa ada hubungan langsung dalam sistem otot ke emosi orang. Jika kita dapat mengontrol otot –otot kita dan mengurangi tegangannya, maka kita akan mampu pula mengontrol emosi.

Secara sepntas komentar Jacobson dapat digambarkan sebagai berikut :

Atlit disuruh berbaring atau rileks , kemudian secara bergiliran untuk dilatih rileksasi. Angota tubuh tersebut disuruh ditegangkan dengan tegangan isometrik. Tegangannya dipertahankan selama 10 detik,kemudian diperintahkan untuk rileks dan harus dirasakan betul seolah-olah terasa panas dan otot tersebut dapat kita kontrol. Sambil istirahat kita pusatkan perhatian pada otot yang rileks tersebut, dan pada tegangan yang mengalir keluar dari otot tersebut.

B.4. Teknik autogenic relaxation

Teknik ini dapat melatih seseorang untuk melakukan sugesti diri, agar ia dapat mengubah kondisi kefaalan pada tubuhnya untuk mrngrndalikan munculnya emosi yang terlalu bergelora.

Pada permulaan latihan memeang perlu dibantu dengan intruksi-intruksi dari pelatih. Akan tetapi setalah beberapa kali latihan, atlit harus bisa mensugeste dirinya sendirinya dalam latihan relaksasi ini. Prosedur autogenic menekankan pada 6 pusat perhatian:

  1. Lengan kanan kiri saya teasa berat, tungkai kanan kiri saya terasa berat
  2. Lengan kanan kiri saya teasa hangatt, tungkai kanan kiri saya terasa hangat
  3. Denyut jantung saya tenang dan teratur
  4. Badan saya bernafas sendiri
  5. Perut saya terasa hangat
  6. Dahi saya terasa sejuk

Pada waktu latihan pelatih mengecek apakah seluruh anggota badan atlit benar-benar rileks, yaitu dengan cara mengangkat salah satu angota badan (misalnya kaki) dan menjatuhkan ke lantai. Menurut Vanek dan Cratty (1970) tidak semua atlit bisa melatih teknik rileksasi ini dengan hasil yang positif.

Tag: , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: